Rabu, 25 April 2012

Tradisi Khormat Bumi Desa Sukoharjo Pati

BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Bangsa Indonesia memiliki kekayaan tradisi yang senantiasa dipelihara dan dikembangkan sejak nenek moyang hingga sekarang. Di wilayah Kabupaten Pati, sampai saat ini terdapat beberapa tradisi yang masih dipelihara dan dipertahankan oleh rakyat,salah satunya yaitu sedekah bumi.
Sedekah Bumi bagi masyarakat Pati, adalah suatu tradisi tahunan yang selalu diselenggarakan, khususnya bagi warga Desa Sukoharjo Kecamatan Margorejo Kabupaten Pati. Upacara sedekah bumi bagi warga Desa Sukoharjo disebut juga dengan upacara khormat bumi. Tradisi upacara sedekah bumi atau khormat bumi adalah sasuatu kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama dengan memberi sedekah makanan atau hasil pertanian, serta memanjatkan doa kepada Tuhan atas keberkahan yang telah dilimpahkan kepada seluruh penduduk desa. Ada kepercayaan bahwa apabila upacara khormat bumi tidak dilaksanakan maka akan datang bencana bagi rakyat.Dari tahun ke tahun upacara sedekah bumi atau khormat bumi mengalami perubahan,yaitu dari ritual pra sejarah yang sekarang di sesuaikan dengan ajaran agama Islam.
Sehubungan dengan hal tersebut di atas,maka dengan disusunnya makalah ini ,dapat mengetahui pentingnya tradisi upacara sedekah bumi atau khormat bumi tahunan bagi generasi penerus, yang diselenggarakan di Desa Sukoharjo Kecamatan Margorejo Kabupaten Pati.

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apa arti dari upacara khormat bumi bagi masyarakat Desa Sukoharjo Kecamatan Margorejo Kabupaten Pati itu ?
2.      Bagaimanakah pelaksanaan upacara khormat bumi yang diselenggarakan oleh  masyarakat Desa Sukoharjo Kecamatan Margorejo Kabupaten Pati ?.
3.      Apa saja nilai-nilai dalam upacara khormat bumi di Desa Sukoharjo Kecamatan Margorejo yang dapat diwariskan kepada generasi penerus ?

C.     TUJUAN
1.      Mengetahui arti dalam upacara khormat bumi bagi masyarakat Desa Sukoharjo Kecamatan Margorejo Kabupaten Pati.
2.      Mengetahui pelaksanaan upacara khormat bumi di Desa Sukoharjo Kecamatan Margorejo Kabupaten Pati.
3.      Mengetahui nilai-nilai dalam upacara khormat bumi di Desa Sukoharjo Kecamatan Margorejo yang dapat diwariskan kepada generasi penerus.
























BAB II
PEMBAHASAN


A.    KHORMAT BUMI  DAN DESA SUKOHARJO         

Sedekah bumi atau khormat bumi adalah tradisi tahunan yang diselenggarakan secara bersama-sama oleh seluruh penduduk desa ,yaitu dengan mengadakan sedekah makanan dan hasil pertanian sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa . Adapun dalam acara sedekah bumi atau khormat bumi biasanya di selenggarakan acara hiburan,seperti pertunjukan wayang kulit dan ketoprak.

Desa Sukoharjo memiliki luas lahan 446,327 ha, jumlah penduduk 5517 jiwa terdiri 2665 laki-laki dan 2852 perempuan, termasuk salah satu desa di Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati. Desa Sukoharjo mulai tahun 2009  dipimpin oleh Suko Wahono.Desa Sukoharjo terdiri dari 5 dusun, yakni Dusun Cacah, Dusun Jagan, Dusun Gemiring, Dusun Gambiran dan Dusun Gebyaran. Desa Sukoharjo sebelah barat berbatasan dengan Desa Banyu Urip dan Langse, sebelah utara dengan Desa Mataraman dan Muktiharjo, sebelah timur dengan Desa Puri dan Plangitan, sebelah selatan berbatasan dengan desa Dadirejo dan Desa Badegan.

      Bagi penduduk masyarakat Desa Sukoharjo sendiri, tradisi sedekah bumi atau khormat bumi adalah tradisi tahunan yang dilaksanakan pada bulan Apit atau Dzulkaidah. Tradisi sedekah bumi atau khormat bumi masyarakat Desa Sukoharjo ini dimulai dengan adanya legenda Mbah Gamirah di Dusun Cacah. Pelaksanaan upacara khormat bumi yang diselenggarakan oleh  masyarakat Desa Sukoharjo Kecamatan Margorejo Kabupaten Pati merupakan usaha masyarakat setempat untuk menjaga keseimbangan alam, manusia menjaga hubungan dengan penguasa alam  dan menjaga hubungan dengan sesama manusia.
     
      Tradisi khormat bumi sudah berlangsung lama, dari generasi ke generasi berikutnya, ada yang tetap namun ada yang berubah, perubahan ini tentu disesuaikan dengan kondisi zaman yang berubah. Ketika masyarakat secara mayoritas menganut agama Islam, maka tradisi sedekah bumi tetap dilestarikan, perubahan terjadi pada doa yang disampaikan, bukan lagi ditujukan kepada nenek moyang (leluhur) melainkan doa ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa yaitu Allah SWT (wawancara dengan Fadholi 23 Nopember 2011). Perubahan terjadi juga pada dimasukkannya aspek hiburan, sehingga rangkaian acara sedekah bumi meliputi selamatan di punden Mbah Gamirah, pertunjukan wayang kulit, pertunjukan ketoprak dan pengajian umum di balai desa.

B.     PELAKSANAAN KHORMAT BUMI

      Upacara khormat bumi yang dilaksanakan masyarakat Desa Sukoharjo dapat menghabiskan biaya mencapai  puluhan juta rupiah. Biaya untuk menyelenggarakan upacara khormat bumi dianggarkan melalui Anggaran Pendapatan Belanja Desa (APBDes) melalaui hasil lelang bengkok wayangan.Adapun dalam pelaksanaan upacara khormat bumi,masyarakat tidak dipungut biaya.

      Biasanya waktu dalam penyelenggaraan upacara khormat bumi ditetapkan pada hari Jum’at bulan Apit. Waktu ini dipilih oleh masyarakat dengan beberapa pertimbangan.Oleh karena itu pada saat bulan Apit inilah saat yang tepat untuk melaksanakan upacara khormat bumi dengan memanjatkan do’a kepada Allah SWT agar seluruh warga desa selalu diberi rahmatNya yang berupa hidup damai tenteram dan sejahtera.Tempat penyelenggaraan upacara khormat bumi dilaksankan di Punden Mbah Gamirah,tepatnya di dusun Cacah, dengan pertimbangan bahwa Mbah Gamirah merupakan orang yang berjasa dalam berdirinya Dusun Cacah, Desa Sukoharjo. Legenda Dusun Cacah berasal dari Mbah Gamirah. Oleh karena itu sebagai salah satu usaha untuk menghormati dan mengenang jasa Mbah Gamirah upacara khormat bumi selalu dilaksanakan di Punden Mbah Gamirah.

      Pemimpin upacara khormat bumi adalah Modin.Modin merupakan orang yang mengerti urusan agama, dan diberi wewenang untuk memimpin kegiatan keagamaan mulai dari mengurusi pernikahan, mengurusi orang meninggal dunia.Jenis kesenian untuk melaksanakan upacara khormat bumi di Punden Mbah Gamirah adalah wayang kulit.

Rangkaian acara upacara khormat bumi dimulai dengan diadakannya selamatan yang dilaksanakan di masjid-masjid. Setiap kepala keluarga membawa nasi besek/kardus untuk dikumpulkan di masjid dan dilanjutkan dengan acara makan nasi besekan bersama dan ada sebagian yang langsung membawa pulang. Selesai hajatan di masjid, dilanjutkan di balai desa dengan acara pengajian umum.Dalam pengajian umum ini biasanya ada acara pembagian santunan bagi anak yatim dan fakir miskin. Puncak acara upacara khormat bumi adalah hajatan di punden Mbah Gamirah. Lokasi punden ada di Dusun Cacah. Punden adalah suatu tempat yang dihormati dan disakralkan oleh warga masyarakat desa.

      Para warga masyarakat Desa Sukoharjo membawa makanan yang berupa nasi yang diletakkan di baki atau nampan, penduduk biasanya menyebut dengan istilah ambengan. Ambengan berisi nasi, tahu, tempe, ayam, oseng kacang, sambal goreng dan mie. Ada pula penduduk yang membawa pisang ataupun buah-buahan yang lain. Berbagai jenis ambengan itu diletakkan di atas tikar yang sudah digelar di pelataran punden Mbah Gamirah.Setelah warga yang akan melaksanakan hajatan sedekah bumi berkumpul semua, maka acara upacara khormat bumi mulai dilaksanakan.
     
      Inti upacara khormat bumi adalah kegiatan selamatan dengan membawa berbagai macam hasil pertanian yang berupa buah-buahan dan nasi di nampan atau baki, dihadapi secara bersama-sama, setelah doa dibacakan selesai, maka nasi dan buah-buahan itu dimakan secara bersama-sama. Doa yang dibaca adalah permohonan kepada Tuhan agar warga desa mendapat keselamatan dijauhkan dari segala bencana baik bencana alam, maupun bencana penyakit baik bagi manusia, hewan peliharaan muapun bagi tananam. Doa itu juga meminta agar warga desa diberkai rizki yang melimpah.
     
      Maka setelah itu dilanjutkanlah acara penutupan khormat bumi yaitu dengan di selenggarakannya acara hiburan seperti pertunjukan wayang dan ketoprak yang ditempatkan di balai Desa Sukoharjo.Dalam acara pelaksanaan khormat bumi,masyarakat Desa Sukoharjo pada umumnya  menyambutnya dengan suka cita. Oleh karenanya kegiatan sedekah bumi atau khormat bumi mendapat respon positif di kalangan masyarakat desa Sukoharjo, sehingga mereka berpartisipasi dalam kegiatan sedekah bumi terutama dengan mengeluarkan besekan atau ambengan sebagai sodaqoh atau rasa syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat-Nya.

C.     NILAI-NILAI DALAM PELAKSANAAN KHORMAT BUMI
     
      Dalam Upacara khormat bumi yang dilaksanakan masyarakat Desa Sukoharjo mengandung nilai-nilai positif yang perlu diteladani bagi generasi penerus.Dengan dilaksanakannya upacara Khormat Bumi,maka kita dapat mengambil nilai-nilai itu yaitu  beberapa sikap sebagai berikut :
  1. Gotong royong.
Sikap gotong royong ditunjukkan oleh perangkat desa dan warga desa dalam mempersiapkan pelaksanaan upacara khormat bumi. Selama bekerja, mereka tidak dibayar, tetapi tetap menunjukkan sikap ihlas tidak jengkel ataupun marah. Mereka menunjukkan sikap rela tanpa pamrih dan memancarkan raut kegembiraan dalam mempersipakan upacara khormat bumi.

  1. Demokratis.
Sikap musyawarah ditunjukkan baik kepala desa beserta dengan perangkat desa, tokoh masyarakat maupun warga masyarakat dalam mempersiapkan pelaksanaan upacara khormat bumi. Semua acara disusun berdasar azas mufakat.

  1.  Ketuhanan.
Sikap pasrah kepada penguasa alam dan hormat kepada leluhur merupakan salah satu karakter masyarakat pedesaan yang mayoritas hidup sebagai petani, sikap itu bahkan sudah melekat dan menjadi budaya Jawa.





BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN

Prosesi upacara khormat bumi yang dilaksanakan masyarakat  Desa Sukoharjo  bertempat di punden Mbah Gamirah merupakan tradisi yang berlangsung turun temurun. Tujuan diselengarakan upacara khormat bumi adalah agar Tuhan Yang Maha Esa Allah SWT, selalu memberi kemakmuran, kesejahteraan, ketetraman dan dijauhkan dari segala malapetaka.
 Nilai-nilai yang terkandung dalam upacara khormat bumi dapat dijadikan sebagai nilai-nilai yang perlu dimiliki oleh generasi penerusi, yaitu sikap gotong royong, demokratis,dan kearifan budaya Jawa.

B.     SARAN

Dengan tersusunnya makalah ini,penyusun berharap tradisi lokal seperti acara khormat bumi atau sedekah bumi dapat dilestarikan secara turun-temurun kepada generasi penerus ,karena tradisi lokal merupakan kekayaan budaya Indonesia yang patut kita jaga keberadaannya.Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua, bagi pembaca pada umumnya dan bagi penyusun khususnya.
Terima kasih.










DAFTAR PUSTAKA

Ø  Ahmad Mansur Suryanegara. Menemukan Sejarah. 1995.Bandung : Mizan.
Ø  Ella Yulaelawati.Kurikulum dan Pembelajaran Filosofi Teori dan Aplikasi. 2004.Bandung : Pakar Karya.
Ø  Hadari Nawawi. Metode Penelitian Bidang Sosial.1990. Gajah Mada University Press.
Ø  Hariyono. Mempelajari Sejarah. 1995.Jakarta : PT Dunia Pustaka Jaya.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar